Lynx memandang Leena yang sedang berdiri didepannya dengan lekat-lekat. "Tidak kuduga ternyata mereka ingin menangkap kita. Aku merasakan kamu sedang menuju kesini dengan cepat sehingga aku tidak langsung menjatuhkan makhluk itu, sengaja membiarkanmu menghadapinya."

Leena tersenyum dingin. "Benar Lynx, aku tidak menduga juga jika mereka berniat busuk terhadap kita."

Ia kemudian menatap lurus padanya. "Karena qi spiritual forging qi tingkat dua milikmu kurasakan ada disini, aku jadi mudah menemukan posisimu."

Lynx terdiam sejenak, lalu bertanya, "Baiklah kita bahas itu nanti, kita beri pelajaran dulu mereka agar tidak bermain-main lagi dengan kita."

Wajah Leena mendadak berubah. "Tunggu Lynx, sekilas saat aku hampir tidak sadarkan diri, aku mendengar mereka membicarakan tentang Isha. Sepertinya dia bukan bagian dari mereka. Anak itu hanyalah korban. Mereka menipunya dan membawanya kemari untuk dijadikan budak."

Lynx mengepalkan tangan. "Budak? Tidak kusangka ada perbudakan di dunia ini. Kita tidak bisa membiarkan Isha dijadikan budak oleh mereka. Kita harus menolongnya."

Tanpa berkata apa-apa lagi, ia menarik tangan Leena. "Ayo."

Lynx yang sudah mengunci posisi Mona sejak awal pertarungan, segera mengajak Leena mengejarnya.

Di koridor darurat, Mona berlari panik, pistol plasma tergenggam erat. Namun begitu ia membelok di ujung lorong, jantungnya nyaris berhenti.

Lynx dan Leena sudah berdiri di hadapannya.

Mona tertegun, lalu segera membidikkan senjata.

Lynx melangkah maju. Suaranya tenang, dingin, tak terbantahkan.

"Kau boleh mencoba… jika kau tidak sayang nyawamu."

Mona membatalkan niatnya untuk menyerang Lynx, di kapal dia sudah melihat sendiri kemampuan Leena yang dapat merebut senjata mereka dengan mudah dan tidak terlihat gerakannya.

"Sekarang, kita bicara," ujar Lynx dingin, suaranya menebar tekanan seperti angin musim dingin yang membekukan ujung tulang.

Tatapannya menajam, menembus seperti jarum ke dalam niat tersembunyi Mona. "Kenapa kalian memburu kami? Apa tujuan kalian?"

Mona tidak kehilangan ketenangannya. Sebagai pelaku yang telah lama terbiasa hidup di jalur kelam, wajahnya tetap tenang, suaranya bergetar tipis dengan nada sandiwara. "Aku… tidak terlibat. Aku pun terkejut ketika mereka tiba-tiba menyerangmu. Karena itu aku memilih bersembunyi."

"Begitukah?" sahut Leena, matanya menyipit tajam seperti pedang tipis yang baru diangkat dari tungku. "Masih berani berbohong setelah yang dilakukan Eliza dan Sara terhadapku?"

Nada suaranya dingin dan menyentak. "Cepat katakan, ke mana kalian membawa Isha?"

Mona tak menjawab. Tatapannya mengeras, lalu ia menunduk. Dalam dunia misi kotor yang dilakoninya, menjaga rahasia lebih tinggi dari hidup itu sendiri. Namun mati bodoh bukan pilihan. Ia menunggu celah.

Seketika, benaknya berkilat dengan tipu muslihat. Ia mengubah sikap, matanya bersinar manja, dan langkahnya melenggang mendekat. "Tuan muda, kau benar-benar luar biasa. Aku hanya ingin menguji seberapa kuat dirimu…"

Ia menyentuh lengan Lynx perlahan, lalu dengan gerakan menggoda, menempelkan tubuhnya, senyumnya merona penuh maksud. "Aku tahu… kehancuran planet Orjeon pasti ulah kalian. Bom penghancur yang kalian pasang sangat luar biasa, dapat menghancurkan planet tersebut. Aku sudah mengagumimu sejak saat itu. Untuk buktinya… bagaimana kalau aku menyerahkan tubuhku untukmu? Bukankah itu tawaran yang menarik?"

Mona menggesekkan bukit kembarnya ke lengan Lynx, "kamu boleh melakukan apa saja kepadaku sepuasmu. "

Leena menajamkan tatapannya. Rona wajahnya mengeras, namun ia tak berkata apa-apa. Ia memilih diam, menanti bagaimana Lynx akan menjawab penghinaan itu.

Lynx menatap wanita di depannya sekilas. Ia tak berkata sepatah kata pun. Dalam sekejap, tangannya bergerak. Ia memelintir tangan Mona ke belakang punggungnya, menekannya hingga bahu hampir bergeser.

"Aku tak tertarik pada permainanmu," ucapnya dingin. "Katakan tujuan kalian. Di mana Isha?"

Mona menahan sakit. Tubuhnya menegang, namun bibirnya masih menyunggingkan senyum sinis.

"Lepaskan aku… atau anak itu mati," gumamnya.

Lynx tidak berkedip. Tatapannya tetap datar. "Dia bukan siapa-siapa bagiku. Aku hanya tak suka melihat anak kecil disiksa. Jika aku gagal menolongnya, itu tak jadi soal. Tapi kau… akan mati jika mengucapkan jawaban yang salah."

Mona menarik tangan kirinya perlahan. Sebuah proyeksi hologram menyala dari gelang di pergelangannya.

Cahaya membentuk bayangan Isha, gadis kecil itu dikurung di dalam ruangan sempit bersama beberapa orang lainnya, dan dijaga oleh beberapa sosok pria kasar.

Tatapan Lynx mengeras. Suaranya berubah, dalam dan berat, seperti gemuruh langit sebelum hujan petir turun.

"Jika kau menyakitinya… aku pastikan kau tak akan mati dengan cara yang cepat."

Mona menatap balik, senyumnya mencibir. "Kalau aku tidak mau memberitahu… apa yang bisa kalian lakukan? Kalian pikir aku takut? Kami adalah bagian dari The Circuit, bayangan yang melingkupi dunia ini. Ancamanmu hanyalah angin lewat bagi kami."

Leena menghela napas panjang. Dia sudah merasa tidak sabar lagi. Matanya menajam, lalu dalam satu langkah ia sudah berdiri di sisi Mona dengan pedang tajam diarahkan ke tubuh Mona, aura dingin memancar dari pedangnya.

"Kalau kau tidak mau bicara," ucap Leena, suaranya menahan amarah, "maka biarkan aku memotong lidahmu agar kamu bisa diam selamanya."

Wajahnya tampak tenang, tapi sorot matanya seperti pisau yang hendak membelah isi dada musuh.

Namun bukannya takut, Mona hanya tersenyum mengejek.

Leena yang tidak suka melihat sikap Mona, ditambah wanita ini berani merayu Lynx didepan matanya, langsung menendang perut Mona tanpa menggunakan qi, namun tendangan tersebut tetap terasa sangat keras bagi manusia biasa seperti Mona. Ditambah tangannya masih di pelintir kuat oleh Lynx, membuat Mona merasakan sangat sakit, namun dia tetap diam dan menatap tajam Leena.

Dalam hatinya, Mona merasa sangat marah. "Lihat saja pembalasanku nanti, akan aku buat kamu merasakan penderitaan berkali-kali lipat kelak."

Leena ingin menendangnya lagi, namun suara tenang Lynx menghentikannya.

"Hentikan sayang," ucapnya ringan, namun mengandung kekuatan yang tak bisa dibantah. "Ada cara yang lebih halus… dan jauh lebih menyakitkan."

Leena menoleh, lalu menarik kembali lengannya. Ia melangkah mundur perlahan, meski matanya masih menyala marah.

Mona tertawa kecil, seolah menganggap semua itu permainan belaka. "Kalian pikir aku takut disiksa? Sudah ratusan metode pernah mencobaku. Aku tak akan berkata sepatah pun."

Lynx tak menjawab. Ia mengangkat tangan, dan dari lengan bajunya meluncur satu gulungan kain hitam kecil. Ia membukanya pelan. Deretan jarum tipis, sehalus rambut, berkilau di bawah cahaya ruangan.

"Jarum akupunktur?" ejek Mona. "Apa kau pikir aku akan takut dengan benda mainan..."

Suuuk!

Satu jarum melesat masuk ke bawah tulang selangka kiri, nyaris tanpa suara. Tubuh Mona tersentak. Ujung bibirnya bergetar, lalu tiba-tiba matanya membelalak.

Suuuk! Suuuk! Suuuk!

Tiga jarum lagi menyusul, satu di bawah pusar, satu di pangkal leher, dan satu di antara ruas tulang belakang. Tak satu pun menimbulkan luka. Tapi wajah Mona langsung berubah.

"A-aaaaaaarrghh!!"

Jeritan melengking menggema. Tubuhnya menggigil hebat. Urat-urat di lehernya mencuat seperti tali busur yang ditarik penuh. Tangannya mencakar udara, napasnya terputus-putus.

"Kita lihat, seberapa kuat kamu bertahan," ujar Lynx dengan tenang, "seluruh jaringan meridianmu terpicu dalam pola kacau. Rasanya seperti tubuh bagian dalammu dimakan ribuan semut dari dalam. Rasakan baik-baik."

Leena menatap Mona yang kini menggeliat dengan napas putus-putus. Meski sudah pernah mengenal berbagai macam teknik penyiksaan, pemandangan didepannya itu membuat bulu kuduknya berdiri. Keringat dingin menetes di pelipisnya.

Mona berusaha menggaruk tubuhnya yang sangat gatal dan sakit, tetapi rasa yang dia alami terasa dibagian dalam tubuhnya, Seperti orang gila, dia menggaruk tubuhnya di berbagai tempat hingga terluka mengerikan. Dia berusaha merobek pakaiannya agar bisa menggaruk tubuhnya, dengan susah payah dia melepaskan seluruh pakaiannya dan berguling-guling menahan gatal dan rasa sakit yang tidak tertahankan.

"B-b-berhenti… aku akan bicara… a-a-aku akan bicara!" Mona menjerit sambil menunduk. "Ampun! Tolong hentikan…!"

Lynx menatapnya sejenak. Ia menghela napas, lalu menjentikkan jari.

Jarum-jarum itu keluar dari tubuh Mona dalam satu tarikan halus. Tubuh perempuan itu langsung limbung dan jatuh berlutut, wajahnya basah oleh peluh, bibirnya gemetar.

"Sekarang," kata Lynx pelan, "katakan segalanya."

